Selasa, 18 November 2014

PENGOBATAN HIPERTENSI SECARA NON FARMAKOLOGIS MEMILIKI KEUNGGULAN DIBANDING DENGAN PENGOBATAN FARMAKOLOGIS.



Kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat sangat masih kurang, akibatnya banyak yang terkena berbagai penyakit salah satunya adalah penyakit darah tinggi. Dewasa ini penyakit darah tinggi sering di alami oleh banyak masyarakat, tidak terkecuali anak – anak, orang muda, orang dewasa dan orang tua. Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang ditunjukkan oleh angka sistolik dan angka diastolik. Dalam bahasa Kedokteran, penyakit darah tinggi ini disebut dengan istilah hipertensi. Penyakit darah tinggi itu sendiri biasanya tidak disadari oleh masyarakat karena biasanya tanpa ada gejala-gejala sebelumnya, banyak yang menghiraukan penyakit ini dan hanya menganggap bahwa penyakit darah tinggi merupakan penyakit yang ringan. Kebanyakan  masyarakat mengetahui bahwa mereka terkena darah tinggi pada saat fase kriteria hipertensi derajat tinggi. Apabila seseorang yang menderita tekanan darah tinggi dan tidak segera mendapatkan pengobatan dan pengontrolan secara teratur maka akan membawa penderita kedalam kasus yang lebih serius. Tekanan darah tinggi menyebabkan jantung bekerja dengan ekstra. Penyakit hipertensi merupakan penyebab umum terjadinya penyakit stroke, serangan jantung, gagal jantung dan kerusakan ginjal. Banyak faktor yang mempengaruhi penyakit tekanan darah tinggi, diantaranya yaitu stress, faktor keturunan (genetik), asupan gizi dan pola hidup. Banyak kasus terjadi pada seseorang yang mengalami masalah dan menganggap masalah itu merupakan beban dalam kehidupannya berakibat pada naiknya tekanan darah yang dahsyat. Mereka yang tidak memperhatikan pola hidupnya dan tidak segera memperbaikinya juga beresiko terkena penyakit hipertensi, misal makan makanan yang berkolestrol tinggi, menggunakan garam dalam ukuran yang melebihi batas dan lain – lain. Penyakit hipertensi umumnya berkembang saat umur seseorang telah mencapai paruh baya ( usia 40 hingga 60 tahunan ). Penyakit ini lebih banyak menyerang pria dan wanita pascamenopause. Sejarah keluarga yang memiliki hipertensi mempertinggi resiko adanya penyakit ini. Kebiasaan merokok, displidemia, diabetes mellitus, kegemukan, pendidikan, dan status sosial ekonomi yang rendah, dapat mempertinggi resiko penyakit hipertensi.1 Dalam kedokteran dikenal dua jenis hipertensi yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer merupakan hipertensi yang belum diketahui penyebabnya. Biasanya penyakit ini diketahui ketika seseorang periksa kesehatannya ke dokter misal, seseorang yang melakukan pemeriksaan kesehatan dikarenakan sesuatu yang mengharuskan dia periksa untuk mendaftar di perguruan tinggi ataupun militer. Yang kedua hipertensi sekunder yaitu penyakit hipertensi yag diketahui penyebabnya, hipertensi sekunder merupakan akibat dari suatu penyakit, kondisi serta keadaan seseorang. Misal stress yang parah, penyakit ginjal, pemakaian obat terlarang seperti heroin, kokain atau jenis narkoba lainnya, cedera dikepala serta tumor yang terjadi di otak.1 Klasifikasi hipertensi menurut WHO : 1. Tekanan darah normal, yakni jika sistolik kurang atau sama dengan 140 dan diastolic kurang atau sama dengan 90mmHg. 2. Tekanan darah perbatasan, yakni sistolik 141 – 149 dan diastolic 91 – 94 mmHg. 3. Tekanan darah tinngi atau hipertensi, yakni jika sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan diastolik lebih besar atau sama dengan 95mmHg.1 Lama - kelamaan penyakit hipertensi ini dapat menimbulkan berbagai penyakit lain, yang sebelumnya tidak memberi peringatan. Dari beberapa penelitian, ada beberapa gejala yang dirasakan oleh sebagian orang. Gejala – gejala tersebut bervariasi, antara lain sakit kepala, pusing, migren, pendarahan hidung atau mimisan, sukar tidur, sesak nafas, cepat marah, telinga berdenging, tengkuk terasa berat, berdebar, dan sering kencing di malam hari.2 Penderita hipertensi di Amerima Serikat lebih dari 50 juta orang. Penelitian yang dilakukan di daerah Rusun ( Rumah Susun ) di Kota Palembang, Sumatera Selatan pada tahun 2003 menunjukkan bahwa jumlah penderita hipertensi sebayak 26 % dari 695 orang yang diukur tekanan darahnya.2 Hipertensi mendapat julukan “The Silent Killer” karena penyakit ini sering membuat penderitanya “kecolonganan”. Banyak penderita yang tidak sadar telah mengidapnya. Pada malam hari, tekanan darah cenderung menurun secara drastis. Pada pagi hari, tekanan darah itu akan cenderung meningkat lagi sewaktu bangun tidur. Bagi penderita hipertensi, waktu buta ( saat fajar ) adalah saat – saat yang paling berbahaya bagi hidupnya, karena resiko terkena stroke atau serangan jantung sering terjadi pada saat itu.3
Ada dua macam pengobatan penyakit hipertensi, non farmakologi ( obat tradisional / obat herbal ) dan farmakologi ( obat medis ). Pengobatan pada penyakit hipertensi ini ditujukan untuk mencegah timbulnya komplikasi. Namun dalam pengobatan farmakologis tentunya mempunyai efek bagi tubuh. Akan tetapi sering kali bahwa efek samping ini kadang terlalu dibesar – besarkan sehingga seseorang yang mestinya mendapat manfaat besar dari pemberian obat menjadi enggan mengonsumsi obat dan yang terjadi adalah perburukan kesehatan pasien tersebut. Disamping memiliki kemampuan bekerja lebih cepat dan menghilangkan penyakit disertai efek samping ( side effect ) , pengobatan secara farmakologis juga mahal dalam hal finansial. Salah satu obat hipertensi adalah diuretic. Diuretic, terutama golongan tiazid, adalah obat lini pertama untuk kebanyakan pasien dengan hipertensi.4 Diuretik penahan kalium adalah obat antihipertensi yang lemah bila digunakan sendiri tetapi memberikan efek aditif bila dikombinasikan dengan golongan tiazid atau loop. Obat – obatan jenis ini bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh ( melalui kencing ). Dengan demikian, volume cairan dalam tubuh berkurang sehingga daya pompa jantung lebih ringan. Obat – obatan yang termasuk golongan diuretic contohnya hidroklorotiasid ( HTC ).5 Efek samping  diuretic tiazid termasuk hypokalemia, hipomagnesia, hiperkalsemia, hiperurisemia, hiperglisemia, hyperlipidemia dan disfungsi seksual. Diuretik loop dapat menyebabkan efek samping yang sama, walau efek pada lemak dan serum glukosa tidak begitu bermakna, dan kadang – kadang dapat terjadi hipokalsemia. Obat hipertensi yang lainnya adalah ACEI yaitu penghambat enzin konversi angiotensin. ACEI memiliki kesaan keefektifannya dengan diuretic dan penyekat beta. ACEI menghambat perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II, dimana angiotensin II adalah vasokonstriktor poten yang juga merangsang sekresi aldosteron, efek samping dari ACEI adalah mengurangi aldoteron dan dapat menaikkan konsentrasi kalium serum. Biasanya kenaikkannya sedikit, tetapi hyperkalemia dapat terjadi.6 Selain kedua obat tersebut dalam dunia medis terdapat obat hipertensi yang memiliki efek yang rendah daripada diuretic dan ACEI. ARB memiliki efek yang menguntukan dari stimulasi AT2 ( seperti vasolidasi, perbaikan jaringan dan penghambatan pertumbuhan sel ) tetap utuh dengan penggunaan ARB. Studi menunjukkan kalau ARB mengurangi berkelanjutannya kerusakan organ target jangka panjang pada pasien – pasien dengan hipertensi dan indikasi khusus lainnya.7 Diuretic bisa digunakan dalam dosis kecil namun merupakan bukan pilihan utama. Selanjutnya ada penghambat simpatetik, system kerja obat itu adalah menghambat aktivitas saraf simpatis ( saraf yang bekerja pada saat beraktifitas ). Contoh obat yang termasuk golongan ini yaitu metildopa, klonidin, dan reserpine. Efek samping obat ini adalah anemia hemolitik ( kekurangan sel darah merah karena pecahnya sel darah merah ), gangguan fungsi hati, dan kadang – kadang dapat menimbulkan hepatitis kronis.5
Selain pengobatan farmakologis, penyakit hipertensi bisa juga menggunakan pengobatan non farmakologis ( obat tradisional ) karena dalam pengobatan non farmakologis memiliki kelebihan dalambanyak hal, serta tidak memiliki efek samping bagi tubuh. Apalagi jika kita mengkonsumsi obat – obatan medis secara terus menerus juga tidak baik bagi kesehatan, karena ginjal bekerja ekstra dalam melakukan filtrasi. Dahulu banyak orang kurang antusias melakukan penyelidikan tentang pengobatan non – farmakologis pada hipertensi. Cara itu dianggap kurang efektif dan sangat sulit dilaksanakan. Akan tetapi, mengingat bahwa hipertensi ringan mencangkup sebagian besar kasus dan adanya efek samping akibat pengobatan yang dilakukan dalam jangka panjang. Tidak seperti pengobatan medis, pengobatan tradisional menggunkan dosis yang lebih kecil karena terbuat dari bhan – bahan alami yang tidak membahayakan tubuh jika mengkonsumsinya sehingga memerlukan waktu penyembuhan yang relative lama, namun pada umumnya tanpa efek samping. Seperti Daun dewa karena mengandung saponin, minyak asiri, flavonoid,tannin, polifenol, asam klorogenat, asam vanilat, asam phidroksi benzoate. Mahkota dewa atau simalakama memiliki kandungan kimia dan efek farmakologis. Tumbuhan ini kaya kandungan kimia. Daun dan kulit buah mengandung alkaloid dan saponin. Selain itu, daunnya mengandung polifenol dan kulit buah mengandung flavonoid. Buah mahkota dewa ini dikonsumsi dengan cara diseduh seperti teh namun harus dikeringkan terlebih dahulu. Mengkudu mempunyai kandungan kiia dan efek farmakologis, kulit akar banyak mengandung morindin, morindon, dan soranjidiol. Buah mengandung alkalois triterpenoid, damnacanthal, pro-xeromine, methoxy, formyl dan hydroxyanthraquinone. Daun mengandung protein, zat kapur, zat besi, karoten, dan askorbin. Bunga mengandung glikosida antrakinon. Mengkudu juga mengandung minyak asam capron dan asam caprylat. Morindon merupakan zat warna merah dan berkhasiat pencahar. Saranjidiol berkhasiat sebagai peluruh kencing ( diuretic ). Bagian yang digunakan dan pemanfaatannya, buah, daun, kulit, batang, dan kulit akar dalam keadaan segar atau kering. Untuk pengobatan hipertensi yaitu dengan cara merebus buahnya lalu diminum airnya. Bisa juga meminum serbuk herba yang dimasukkan dalam kapsul.8
Dengan adanya dua pengobatan penyakit hipertensi, pengobatan non farmakologis memililiki kelebihan salah satunya mudah didapat karena bisa ditemukan disekitar lingkungan, dengan tanaman obat sudah terbukti secara ilmiah. Menurunkan tekanan darah dapat terjadi efek diuretic, anti – andrenergik ( menurunkan produksi, sekresi, efektivitas hormone adrenalin ) dan vasodilator ( zat – zat yang berkhasiat melancarkan peredaran darah dengan cara meningkatkan volume pembuluh darah dan organ – organ yang diisi darah sehingga menurunkan tekanan darah tinggi ), serta dapat menghilangkan sumbatan – sumbatan pada pembuluh darah. Dengan berkurangnya air pada darah ( diuretic ) maka menurunkan volume sehingga tekanan darah turun. Efek lain dari tanaman obat yaitu menghilangkan sumbatan. Tanaman obat terbukti menurunkan kolesterol sebagai salah satu penyumbat pada pembuluh darah. Dengan hilangnya sumbatan maka melancarkan system sirkulasi darah sehingga tekanan darah normal. Obat herbalatau tradisional ini memiliki proses kerjanya yang lebih lambat dibanding obat medis konvensional. Meski begitu efek samping yang ditimbulkan oleh obat herbal biasanya hanya bersifat sementara karena tubuh sedang menyesuaikan diri. Namun, dibalik kelemahannya, obat herbal punya keunggulan sifatnya yang konstruktif atau membangun. Meski kerjanya lebih lambat namun pasti.

APLIKASI & TEORI KEPERAWATAN VIRGINIA HENDERSON



1.      Model Konsep Keperawatan menurut Virginia Handerson
Model konsep keperawatan dijelasakan oleh Virginia Henderson adalah model konsep aktivitas sehari-hari dengan memberikan gambaran tugas perawat yaitu mengkaji individu baik yang sakit ataupun sehat dengan memberikan dukungan kepada kesehatan, penyembuhan serta agar meninggal dengan damai.
Pemahaman konsep tersebut dengan didasari kepada keyakinan dan nilai yang dimilikinya diantaranya : pertama, manusia akan mengalami perkembangan mulai dari pertumbuhan dan perkembangan dalam rentang kehidupan; kedua, dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari individu akan mengalami ketergantungan sejak lahir hingga menjadi mandiri pada dewasa yang dapat dipengaruhi oleh polah asuh, lingkungan dan kesehatan; ketiga, dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari individu dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok diantaranya terhambat dalam melakukan aktivitas, belum dapat melaksanakan aktivitas dan tidak dapat melakukan aktivitas
Jadi pada dasarnya keperawatan menurut Handerson adalah membantu individu yang sakit dan yang sehat dalam melaksankan aktifitas yang memiliki kontribusi terhadap kesehatan dan penyembuhannya, yang mana individu akan mampu mengerjakan tanpa bantuan bila ia memiliki kekuatan, kemauan, dan pengetahuan yang dibutuhkan.
2.      Paradigma Keperawatan Handerson
-          Manusia
 Individu sebagai kesatuan yang tidak dapat dipisahkan: jiwa dan raga adalah satu kesatuan. Lebih lanjut lagi, indifidu dan keluarganya dipandang sebagai unit tunggal. Setiap manusia harus berupaya untuk memepertahankan keseimbangan fisiologis dan emosional.
-          Lingkungan
Henderson mendefinisikan lingkungan sebagai seluruh faktor eksternal dan kondisi yang memengaruhi kehidupan dan perkembangan manusia.

-          Sehat dan Sakit
            Sehat adalah kualitas hidup tertentu, yang oleh Henderson dihubungkan dengan kemandirian. Karakteristik utama dari sakit, adalah ketergantungan dan berbagai tingkat inkapasitasindividu (sekarang pasien) untuk memuaskan kebutuhan manusianya. Menganggap bahwa sehat adalah kemandirian dan sakit adalah ketergantungan dapat dipandang sebagai simplifikasi. Dapat juga dikatakan bahwa sakit adalah keterbatasan kemandirian.
-          Keperawatan
Fungsi unik dari perawat adalah untuk membantu individu, baik apakah ia sakit atau sehat, dalam peran tambahan atau peran pendukung. Tujuan dari keperawatan adalah untuk membantu individu memperoleh kembali kemandiriannya sesegera mungkin. Namun demikian, keputusan Henderson untuk meningkatkan kemandirian dan hanya melakukan sesuatu untuk pasien jika ia tidak dapat melakukannya sendiri tidak disetujui oleh profesi sebagai prinsip dasar asuhan keperawatan sebelum Henderson menjelaskannya lebih lanjut.

3.      Teori Keperawatan menurut Virginia Handerson
Teori keperawatan Virginia Henderson ( Harmer dan Henderson, 1955) mencakup seluruh kebutuhan dasar seorang manusia. Henderson(1964) mendefinisikan keperawatan sebagai:
Membantu individu yang sakit dan yang sehat dalam melaksanakan aktivitas yang memiliki kontribusi terhadap kesehatan dan penyemuhannya, dimana individu tersebut akan mampu mengerjakannya tanpa bantuan bila ia memiliki kekuatan, kemauan, dan pengetahuan yang dibutuhkan. Dan hal ini dilakukan dengan cara membantu mendapatkan kembali kemandiriannya secepat mungkin.
Henderson melihat manusia sebagai individu yang membutuhkan bantuan untuk meraih kesehatan, kebebasan, atau kematian yang damai, serta bantuan untuk meraih kemandirian. Menurut Henderson, kebutuhan dasar manusia terdiri atas 14 komponen yang merupakan komponen penanganan perawatan. Keempatbelas kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Bernapas secara normal
2.      Makan dan minum cukup
3.      Eliminasi
4.      Bergerak dan mempertaankan posisi yang dikehendaki
5.      Istirahat dan tidur
6.      Memilih cara berpakaian; berpakaian dan melepas pakaian
7.      Mempertahankan temperatur tubuh dalam rentang normal
8.      Menjaga tubuh tetap bersih dan rapi.
9.      Menghindari bahaya dari lingkungan
10.  Berkomunikasi engan orang lain
11.  Beribadah menurut keyakianan
12.  Bekerja yang menjanjikan prestasi
13.  Bermain dan berpartisispasi dalam berbagai bentuk rekreasi
14.  Belajar, menggali atau memuaskan rasa keingintahuan yang mengacu pada perkembangan dan kesehatan normal.
            Keempat belas kebutuhan dasar manusia di atas dapat di klarifikasikan menjadi empat kategori, yaitu komponen kebutuhan biologis, psikologis, sosiologis, dan spiritual.
Menurut Henderson, ke-14 kebutuhan dasar yang harus menjadi fokus tersebut dipengaruhi oleh :
-          Usia
-          Kondisi emosional (mood & temperamen)
-          Latar belakang sosial dan budaya.
-          Kondisi fisik dan mental, termasuk berat badan, kemampuan dan ketidakmampuan sensorik, kemampuan dan ketidakmampuan lakomotif, dan status mental.
Henderson juga menekankan pada pentingnya merencanakan Asuhan Keperawatan. Didalam modelnya ia menggambarkan rencana keperawatan, metode skematik untuk pengawasan asuhan. Perencanaan yang cermat akan mengklarifikasikan hal-hal berikut :
-          Urutan aktifitas yang harus dilakukan.
-          Aktifitas perawat yang harus dan tidak boleh dilakukan
-          Perubahan-perubahan yang telah dibuat. 

Sebagai ringkasannya, prinsip-prinsip dasar dari model Henderson adalah sebagai berikut :
-          Fungsi unik dari perawat
-          Upaya pasien kearah kemandirian
-          Asuhan keperawatan dasar berdasarkan kebutuhan dasar manusia
-          Perencanaan yang akan diberikan.

4.      Asumsi - Asumsi Pada Teori Virginia Henderson
Keperawatan (nursing)
Perawat mempunyai keunikan untuk membantu individu sehat atau sakit.Fungsi perawat adalah sebagai salah satu team medis.Fungsi perawat adalah mandiri, terpisah dari dokter, tetapi mendukung program program dokter.Perawat harus mempunyai pengetahuan yang cukup baik dari segi atau sosial.Perawat harus dapat mengkaji kebutuhan dasar manusia.Keempat belas komponen dasar kebutuhan manusia harus dapat tercover semua oleh fungsi perawat.
Perawat dapat melakukan beberapa hal yang dapat membantu kemampuan untuk memenuhi kebutuhan klien, diantaranya :
a)        Menciptakan rasa kekeluargaan dengan klien.
b)        Berusaha mengerti maksud klien
c)        Berusaha untuk selalu peka terhadap ekspresi non verbal
d)       Berusaha mendorong klien untuk mengekspresikan perasaannya.
e)        Berusaha mengenal dan menghargai klien.

Pasien / person (pasien)
Teori Handerson berfokus pada individu yang berdasarkan pandangannya, yaitu bahwa jasmani (body) dan rohani (mind) tidak dapat dipisahkan. Menurut Handerson, manusia adalah unik dan tidak ada dua manusia yang sama. Kebutuhan dasar individu tercermin dalam 14 komponen dari asuhan keperawatan dasar (basic nursing care)
Pemahaman konsep teori keperawatan dari Virginia Handerson didasari kepada keyakinan dan nilai yang dimilaikinya diantaranya:
1.  Manusia akan mengalami perkembangan mulai dari prtumbuhan dan perkembangandalam rentang kehidupan.
2.  Dalam melaksankan aktifitas sehari – hari individu akan mengalami ketergantungan sejak lahir hingga menjadi mandiri pada dewasa yang dapat dipengaruhi oleh pola asuh, lingkungan dan kesehatan.
3.  Dalam melaksanakan aktifitas sehari hari individu dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok diantaranya terhambat dalam melakukan aktifitas, belum dapat melaksanakan aktifitas dan tidak dapat melakukan aktifitas.

Kesehatan (health)
a)Kesehatan adalah kualitas dari kehidupan.
b)       Kesehatan adalah dasar dari fungsi manusia.
c)        Kesehatan diperlukan secara mandiri dan saling menggantungkan.
d)       Peningkatan keshehatan lebih penting dari perawatan orang sakit.
e)    Seseorang dapat memperoleh kesehatan jika dia mempunyai kekuatan, kemauan, dan pengetahuan.

Lingkungan (environment)
a)    Individu yang sehat mampu mengontrol lingkungannya, tetapi penyakit akan menurunkan kemampuan untuk mempengaruhi lingkungan.
b)      Perawat harus mampu memberikan pendidikan kesehatan.
c)     Perawat harus melindungi pasien dari kecelakaan akibat lingkungan.
d)   Perawat harus mampu mencegah terjadinya kecelakaan melalui rekomendasi terkait dengan konstruksi bangunan dan penempatan alat.
e)   Dokter menggunakan hasil kerja perawat untuk menentukan tindakan terbaik dalam mencegah kecacatan
f)       Perawat harus mengetahui tentang sosial budaya dan praktek keagamaan pasien.
  
5.      Hubungan Perawat-Klien
      Henderson mengidentifikasi tiga tingkat hubungan perawat-klien, mulai dari sangat tergantung sampai hubungan yang agak mandiri seperti sebagai berikut :
1) Perawat sebagai pengganti bagi klien
Ketika sakit serius, perawat dilihat sebagai pengganti bagi kekurangan klien untuk menjadikannya lengkap, menyeluruh atau mandiri, karena kurangnya kekuatan fisik, kemauan atau pengetahuan. Henderson melukiskan pandangan ini ketika ia mengatakan bahwa perawat adalah kesadaran dari yang tidak sadar, kehidupn dari yang bunuh diri, kaki dari yang diamputasi, mata bagi yang baru saja buta, alat bergerak bagi bayi, pengetahuan dan percaya diri bagi ibu muda, penyambung lidah bagi yang terlalu lemah atau menarik diri untuk bicara. (KDIK, 2001).
2) Perawat sebagai perbantuan bagi klien
Selama kondisi tidak sadar, perawat membantu pasien menemukan kemandiriannya. Henderson mengatakan 'Kemandirian adalah suatu hal yang relative, tidak satupun kita tidak bergantung pada orang lain, tetapi kita mencoba memberi kemandirian dalam kesehatan, bukan ketergantungan dalam kesakitan'.
3) Perawat sebagai mitra klien
       Sebagai mitra, ners dan klien bersama-sama  memformulasikan rencana perawatan. Adapun diagnosisnya  selalu ada kebutuhan dasar yang perlu dipenuhi, tetapi kebutuhan ini dimodifikasi oleh patologi dan kondisi ini seperti usia, temperamen, status emosional, status sosial kultur dan kapasitas fisik dan intelektual.
Perawat harus mampu mengkaji tidak saja kebutuhan klien tetapi juga kondisi patologis yang mengubah klien. Henderson mengatakan, perawat harus masuk ketubuh setiap kliennya untuk mengetahui apa yang dibutuhkan kliennya. Kebutuhan ini kemudian divalidasi dengan kliennya. Perawat dapat mengubah lingkungan yang ia anggap perlu untuk kepentingan kesehatan kliennya.  Perawat dan klien harus bekerjasama untuk mencapai tujuan, yaitu kemandirian atau bahkan kematian yang damai. Tujuan utama perawat yaitu menjaga agar keseharian klien senormal mungkin. (Marriner Ann, 1986)

6.      Hubungan Perawat-Dokter
       Henderson menekankan agar perawat tidak mengikuti perintah dokter karena perawat memiliki tugas yang unik. Perawat harus membuat rencana keperawatan bersama klien lalu mengusulkan kepada dokter untuk disesuaikan dengan program pengobatannya. Lebih luas Henderson menegaskan agar para perawat membantu klien dengan manajemen keperawatannya ketika dokter tidak ada. (Marriner Ann, 1986)
7. Perawat sebagai Anggota Tim Kesehatan
       Pekerjaan perawat saling tergantung dengan pekerjaan profesi lain, sehingga perawat dan anggota tim lainnya harus saling membantu menjalankan program masing-masing, tetapi sebaiknya tidak melakukan pekerjaan milik orang lain. Henderson menggambarkan fungsi masing-masing profesi kesehatan dan keluarga sebagai suatu irisan dalam suatu lingkaran, besarnya ukuran dari irisan tersebut sangat tergantung pada apa yang dibutuhkan klien, dan karenanya besarnya ukuran irisan tersebut akan berubah sesuai dengan kemajuan kondisi klien. Yang menjadi tujuan disini adalah dimana semakin lama, porsi irisan untuk keluarga dan klien  akan semakin besar atau bahkan seluruh lingkaran tersebut.  Yang artinya dengan kondisi yang demikian berarti bahwa klien dan keluarga akan semakin mandiri dalam membantu dan memelihara kesehatannya sendiri. (Marriner Ann, 1986)

APLIKASI TEORI KONSEP HENDERSON PADA PRAKTIK KEPERAWATAN

Dalam teori keperawatan virginia Henderson( Harmer dan Henderson, 1955) mencakup seluruh kebutuhan dasar seorang manusia. Henderson memberikan 14 kerangka kerja dalam melakukan asuhan keperawatan. 14 komponen tersebut dalam asuhan keperawatan dasar pada tingkat asuhan individual, mengacu kepada aktivitas dalam kehidupan sehari-hari dari seseorang, perawat membantunya dengan fungsi-fungsi ini, atau membuat kondisi sehingga memungkinkan klien melakukan hal-hal berikut ini :
  1)     Bernafas dengan normal
Bantuan yang dapat diberikan kepada klien oleh perawat adalah membantu memilih tempat tidur, kursi yang cocok, serta menggunakan bantal, alas dan sejenisnya sabagai alat pembantu agar klien dapat bernafas secara normal dan kemampuan mendemonstrasikan dan menjelaskan pengaruhnya kepada klien. Memberikan fasilitas oksigenasi jika pasien sesak nafas.
2)        Kebutuhan akan nutrisi
Perawat harus mampu memberikan penjelasan mengenai tinggi dan berat badan yang normal, kebutuhan nutrisi yang diperlukan. Pemilihan dan penyediaan makanan, dengan tidak lupa memperhatikan latar belakang dan social klien apakah ada alergi atau tidak.
3)        Kebutuhan eliminasi
Perawat harus mengetahui semua saluran pengeluaran dan keadaan normalnya, jarak waktu pengeluaran, dan frekuensi pengeluaran. Perawat juga membantu pasien dalam hal BAB dan BAK.
4)        Gerak dan keseimbangan tubuh
Perawat harus mengetahui tentang prinsip-prinsip keseimbangan tubuh, miring, dan bersandar.
5)        Kebutuhan isthirahat dan tidur
Perawat harus mengetahui tentang pergerakan badan yang baik, dan juga mengajarkan bagaimana cara mengontrol emosi yang baik. Selain itu, perawat membantu pasien untuk mendapatkan posisi tidur yang baik dan merubahnya agar tidak terjadi lecet.

6)        Kebutuhan berpakaian
Perawat dasarnya meliputi membantu klien memilihkan pakaian yang tepat dari pakaian yang tersedia dan membantu untuk memakainya.
7)        Mempertahankan temperature tubuh atau sirkulasi
Perawat harus mengetahui physiologi panas dan bisa mendorong kearah tercapainya keadaan panas maupun dingin dengan mengubah temperature, kelembapan atau pergerakan udara, atau dengan memotivasi klien untuk meningkatkan atau mengurangi aktifitasnya.
8)        Kebutuhan akan personal hygiene
Perawat harus mampu untuk memotivasi klien mengenai konsep konsep kesehatan bahwa walaupun sakit klien tidak perlu untuk menurunkan standard kesehatannya, dan bisa menjaga tetap bersih baik fisik maupun jiwanya.
9)        Kebutuhan rasa aman dan nyaman
Perawat mampu melindungi klien dari trauma dan bahaya yang timbul yang mungkin banyak factor yang membuat klien tidak merasa nyaman dan aman.
10)    Berkomunikasi dengan orang lain dan mengekspresikan emosi, keinginan, rasa takut dan pendapat.
Perawat menjadi penterjemah dalam hubungan klien dengan tim kesehatan lain dalam memajukan kesehatannya, dan membuat klien mengerti akan dirinya sendiri, juga mampu menciptakan lingkungan yang teraupeutik.
11)    Kebutuhan spiritual
Perawat mampu untuk menghormati klien dalam memenuhi kebutuhan spiritualnya dan meyakinkan pasien bahwa kepercayaan, keyakinan dan agama sangat berpengaruh terhadap upaya penyembuhan.
12)    Kebutuhan bekerja
Dalam perawatan dasar maka penilaian terhadap interprestasi terhadap kebutuhan klien sangat penting, dimana sakit bisa menjadi lebih ringan apabila seseorang dapat terus bekerja.
13)    Kebutuhan bermain dan rekreasi
Perawat mampu memkilihkan aktifitas yang cocok sesuai umur, kecerdasan, pengalaman dan selera klien, kondisi, serta keadaan penyakitnya.
14)    Kebutuhan belajar.
Perawat dapat membantu klien belajar dalam mendorong usaha penyembuhan dan meningkatkan kesehatan, serta memperkuat dan mengikuti rencana terapi yang diberikan