Kesadaran
masyarakat akan pola hidup sehat sangat masih kurang, akibatnya banyak yang
terkena berbagai penyakit salah satunya adalah penyakit darah tinggi. Dewasa
ini penyakit darah tinggi sering di alami oleh banyak masyarakat, tidak
terkecuali anak – anak, orang muda, orang dewasa dan orang tua. Hipertensi
adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah
diatas normal yang ditunjukkan oleh angka sistolik dan angka diastolik. Dalam
bahasa Kedokteran, penyakit darah tinggi ini disebut dengan istilah hipertensi.
Penyakit darah tinggi itu sendiri biasanya tidak disadari oleh masyarakat
karena biasanya tanpa ada gejala-gejala sebelumnya, banyak yang menghiraukan
penyakit ini dan hanya menganggap bahwa penyakit darah tinggi merupakan penyakit
yang ringan. Kebanyakan masyarakat
mengetahui bahwa mereka terkena darah tinggi pada saat fase kriteria hipertensi
derajat tinggi. Apabila seseorang yang menderita tekanan darah tinggi dan tidak
segera mendapatkan pengobatan dan pengontrolan secara teratur maka akan membawa
penderita kedalam kasus yang lebih serius. Tekanan darah tinggi menyebabkan
jantung bekerja dengan ekstra. Penyakit hipertensi merupakan penyebab umum
terjadinya penyakit stroke, serangan jantung, gagal jantung dan kerusakan ginjal.
Banyak faktor yang mempengaruhi penyakit tekanan darah tinggi, diantaranya
yaitu stress, faktor keturunan (genetik), asupan gizi dan pola hidup. Banyak
kasus terjadi pada seseorang yang mengalami masalah dan menganggap masalah itu
merupakan beban dalam kehidupannya berakibat pada naiknya tekanan darah yang
dahsyat. Mereka yang tidak memperhatikan pola hidupnya dan tidak segera
memperbaikinya juga beresiko terkena penyakit hipertensi, misal makan makanan
yang berkolestrol tinggi, menggunakan garam dalam ukuran yang melebihi batas
dan lain – lain. Penyakit hipertensi umumnya berkembang saat umur seseorang
telah mencapai paruh baya ( usia 40 hingga 60 tahunan ). Penyakit ini lebih
banyak menyerang pria dan wanita pascamenopause. Sejarah keluarga yang memiliki
hipertensi mempertinggi resiko adanya penyakit ini. Kebiasaan merokok,
displidemia, diabetes mellitus, kegemukan, pendidikan, dan status sosial
ekonomi yang rendah, dapat mempertinggi resiko penyakit hipertensi.1 Dalam
kedokteran dikenal dua jenis hipertensi yaitu hipertensi primer dan hipertensi
sekunder. Hipertensi primer merupakan hipertensi yang belum diketahui
penyebabnya. Biasanya penyakit ini diketahui ketika seseorang periksa
kesehatannya ke dokter misal, seseorang yang melakukan pemeriksaan kesehatan
dikarenakan sesuatu yang mengharuskan dia periksa untuk mendaftar di perguruan
tinggi ataupun militer. Yang kedua hipertensi sekunder yaitu penyakit
hipertensi yag diketahui penyebabnya, hipertensi sekunder merupakan akibat dari
suatu penyakit, kondisi serta keadaan seseorang. Misal stress yang parah,
penyakit ginjal, pemakaian obat terlarang seperti heroin, kokain atau jenis
narkoba lainnya, cedera dikepala serta tumor yang terjadi di otak.1 Klasifikasi
hipertensi menurut WHO : 1. Tekanan darah normal, yakni jika sistolik kurang
atau sama dengan 140 dan diastolic kurang atau sama dengan 90mmHg. 2. Tekanan
darah perbatasan, yakni sistolik 141 – 149 dan diastolic 91 – 94 mmHg. 3.
Tekanan darah tinngi atau hipertensi, yakni jika sistolik lebih besar atau sama
dengan 160 mmHg dan diastolik lebih besar atau sama dengan 95mmHg.1 Lama
- kelamaan penyakit hipertensi ini dapat menimbulkan berbagai penyakit lain,
yang sebelumnya tidak memberi peringatan. Dari beberapa penelitian, ada
beberapa gejala yang dirasakan oleh sebagian orang. Gejala – gejala tersebut
bervariasi, antara lain sakit kepala, pusing, migren, pendarahan hidung atau
mimisan, sukar tidur, sesak nafas, cepat marah, telinga berdenging, tengkuk
terasa berat, berdebar, dan sering kencing di malam hari.2 Penderita
hipertensi di Amerima Serikat lebih dari 50 juta orang. Penelitian yang
dilakukan di daerah Rusun ( Rumah Susun ) di Kota Palembang, Sumatera Selatan
pada tahun 2003 menunjukkan bahwa jumlah penderita hipertensi sebayak 26 % dari
695 orang yang diukur tekanan darahnya.2 Hipertensi mendapat julukan
“The Silent Killer” karena penyakit ini sering membuat penderitanya
“kecolonganan”. Banyak penderita yang tidak sadar telah mengidapnya. Pada malam
hari, tekanan darah cenderung menurun secara drastis. Pada pagi hari, tekanan
darah itu akan cenderung meningkat lagi sewaktu bangun tidur. Bagi penderita
hipertensi, waktu buta ( saat fajar ) adalah saat – saat yang paling berbahaya
bagi hidupnya, karena resiko terkena stroke atau serangan jantung sering
terjadi pada saat itu.3
Ada
dua macam pengobatan penyakit hipertensi, non farmakologi ( obat tradisional /
obat herbal ) dan farmakologi ( obat medis ). Pengobatan pada penyakit
hipertensi ini ditujukan untuk mencegah timbulnya komplikasi. Namun dalam
pengobatan farmakologis tentunya mempunyai efek bagi tubuh. Akan tetapi sering
kali bahwa efek samping ini kadang terlalu dibesar – besarkan sehingga
seseorang yang mestinya mendapat manfaat besar dari pemberian obat menjadi
enggan mengonsumsi obat dan yang terjadi adalah perburukan kesehatan pasien
tersebut. Disamping memiliki kemampuan bekerja lebih cepat dan menghilangkan
penyakit disertai efek samping ( side effect ) , pengobatan secara farmakologis
juga mahal dalam hal finansial. Salah satu obat hipertensi adalah diuretic.
Diuretic, terutama golongan tiazid, adalah obat lini pertama untuk kebanyakan
pasien dengan hipertensi.4 Diuretik penahan kalium adalah obat
antihipertensi yang lemah bila digunakan sendiri tetapi memberikan efek aditif
bila dikombinasikan dengan golongan tiazid atau loop. Obat – obatan jenis ini
bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh ( melalui kencing ). Dengan
demikian, volume cairan dalam tubuh berkurang sehingga daya pompa jantung lebih
ringan. Obat – obatan yang termasuk golongan diuretic contohnya
hidroklorotiasid ( HTC ).5 Efek samping diuretic tiazid termasuk hypokalemia,
hipomagnesia, hiperkalsemia, hiperurisemia, hiperglisemia, hyperlipidemia dan
disfungsi seksual. Diuretik loop dapat menyebabkan efek samping yang sama,
walau efek pada lemak dan serum glukosa tidak begitu bermakna, dan kadang –
kadang dapat terjadi hipokalsemia. Obat hipertensi yang lainnya adalah ACEI
yaitu penghambat enzin konversi angiotensin. ACEI memiliki kesaan
keefektifannya dengan diuretic dan penyekat beta. ACEI menghambat perubahan
angiotensin I menjadi angiotensin II, dimana angiotensin II adalah
vasokonstriktor poten yang juga merangsang sekresi aldosteron, efek samping
dari ACEI adalah mengurangi aldoteron dan dapat menaikkan konsentrasi kalium
serum. Biasanya kenaikkannya sedikit, tetapi hyperkalemia dapat terjadi.6 Selain
kedua obat tersebut dalam dunia medis terdapat obat hipertensi yang memiliki
efek yang rendah daripada diuretic dan ACEI. ARB memiliki efek yang menguntukan
dari stimulasi AT2 ( seperti vasolidasi, perbaikan jaringan dan penghambatan
pertumbuhan sel ) tetap utuh dengan penggunaan ARB. Studi menunjukkan kalau ARB
mengurangi berkelanjutannya kerusakan organ target jangka panjang pada pasien –
pasien dengan hipertensi dan indikasi khusus lainnya.7 Diuretic bisa
digunakan dalam dosis kecil namun merupakan bukan pilihan utama. Selanjutnya
ada penghambat simpatetik, system kerja obat itu adalah menghambat aktivitas
saraf simpatis ( saraf yang bekerja pada saat beraktifitas ). Contoh obat yang
termasuk golongan ini yaitu metildopa, klonidin, dan reserpine. Efek samping
obat ini adalah anemia hemolitik ( kekurangan sel darah merah karena pecahnya
sel darah merah ), gangguan fungsi hati, dan kadang – kadang dapat menimbulkan
hepatitis kronis.5
Selain
pengobatan farmakologis, penyakit hipertensi bisa juga menggunakan pengobatan
non farmakologis ( obat tradisional ) karena dalam pengobatan non farmakologis
memiliki kelebihan dalambanyak hal, serta tidak memiliki efek samping bagi
tubuh. Apalagi jika kita mengkonsumsi obat – obatan medis secara terus menerus
juga tidak baik bagi kesehatan, karena ginjal bekerja ekstra dalam melakukan
filtrasi. Dahulu banyak orang kurang antusias melakukan penyelidikan tentang
pengobatan non – farmakologis pada hipertensi. Cara itu dianggap kurang efektif
dan sangat sulit dilaksanakan. Akan tetapi, mengingat bahwa hipertensi ringan
mencangkup sebagian besar kasus dan adanya efek samping akibat pengobatan yang
dilakukan dalam jangka panjang. Tidak seperti pengobatan medis, pengobatan
tradisional menggunkan dosis yang lebih kecil karena terbuat dari bhan – bahan
alami yang tidak membahayakan tubuh jika mengkonsumsinya sehingga memerlukan
waktu penyembuhan yang relative lama, namun pada umumnya tanpa efek samping.
Seperti Daun dewa karena mengandung saponin, minyak asiri, flavonoid,tannin,
polifenol, asam klorogenat, asam vanilat, asam phidroksi benzoate. Mahkota dewa
atau simalakama memiliki kandungan kimia dan efek farmakologis. Tumbuhan ini
kaya kandungan kimia. Daun dan kulit buah mengandung alkaloid dan saponin.
Selain itu, daunnya mengandung polifenol dan kulit buah mengandung flavonoid.
Buah mahkota dewa ini dikonsumsi dengan cara diseduh seperti teh namun harus
dikeringkan terlebih dahulu. Mengkudu mempunyai kandungan kiia dan efek
farmakologis, kulit akar banyak mengandung morindin, morindon, dan soranjidiol.
Buah mengandung alkalois triterpenoid, damnacanthal, pro-xeromine, methoxy,
formyl dan hydroxyanthraquinone. Daun mengandung protein, zat kapur, zat besi,
karoten, dan askorbin. Bunga mengandung glikosida antrakinon. Mengkudu juga
mengandung minyak asam capron dan asam caprylat. Morindon merupakan zat warna
merah dan berkhasiat pencahar. Saranjidiol berkhasiat sebagai peluruh kencing (
diuretic ). Bagian yang digunakan dan pemanfaatannya, buah, daun, kulit,
batang, dan kulit akar dalam keadaan segar atau kering. Untuk pengobatan
hipertensi yaitu dengan cara merebus buahnya lalu diminum airnya. Bisa juga
meminum serbuk herba yang dimasukkan dalam kapsul.8
Dengan
adanya dua pengobatan penyakit hipertensi, pengobatan non farmakologis
memililiki kelebihan salah satunya mudah didapat karena bisa ditemukan
disekitar lingkungan, dengan tanaman obat sudah terbukti secara ilmiah.
Menurunkan tekanan darah dapat terjadi efek diuretic, anti – andrenergik (
menurunkan produksi, sekresi, efektivitas hormone adrenalin ) dan vasodilator (
zat – zat yang berkhasiat melancarkan peredaran darah dengan cara meningkatkan
volume pembuluh darah dan organ – organ yang diisi darah sehingga menurunkan
tekanan darah tinggi ), serta dapat menghilangkan sumbatan – sumbatan pada
pembuluh darah. Dengan berkurangnya air pada darah ( diuretic ) maka menurunkan
volume sehingga tekanan darah turun. Efek lain dari tanaman obat yaitu
menghilangkan sumbatan. Tanaman obat terbukti menurunkan kolesterol sebagai
salah satu penyumbat pada pembuluh darah. Dengan hilangnya sumbatan maka
melancarkan system sirkulasi darah sehingga tekanan darah normal. Obat
herbalatau tradisional ini memiliki proses kerjanya yang lebih lambat dibanding
obat medis konvensional. Meski begitu efek samping yang ditimbulkan oleh obat
herbal biasanya hanya bersifat sementara karena tubuh sedang menyesuaikan diri.
Namun, dibalik kelemahannya, obat herbal punya keunggulan sifatnya yang
konstruktif atau membangun. Meski kerjanya lebih lambat namun pasti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar