Selasa, 18 November 2014

PENGOBATAN HIPERTENSI SECARA NON FARMAKOLOGIS MEMILIKI KEUNGGULAN DIBANDING DENGAN PENGOBATAN FARMAKOLOGIS.



Kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat sangat masih kurang, akibatnya banyak yang terkena berbagai penyakit salah satunya adalah penyakit darah tinggi. Dewasa ini penyakit darah tinggi sering di alami oleh banyak masyarakat, tidak terkecuali anak – anak, orang muda, orang dewasa dan orang tua. Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang ditunjukkan oleh angka sistolik dan angka diastolik. Dalam bahasa Kedokteran, penyakit darah tinggi ini disebut dengan istilah hipertensi. Penyakit darah tinggi itu sendiri biasanya tidak disadari oleh masyarakat karena biasanya tanpa ada gejala-gejala sebelumnya, banyak yang menghiraukan penyakit ini dan hanya menganggap bahwa penyakit darah tinggi merupakan penyakit yang ringan. Kebanyakan  masyarakat mengetahui bahwa mereka terkena darah tinggi pada saat fase kriteria hipertensi derajat tinggi. Apabila seseorang yang menderita tekanan darah tinggi dan tidak segera mendapatkan pengobatan dan pengontrolan secara teratur maka akan membawa penderita kedalam kasus yang lebih serius. Tekanan darah tinggi menyebabkan jantung bekerja dengan ekstra. Penyakit hipertensi merupakan penyebab umum terjadinya penyakit stroke, serangan jantung, gagal jantung dan kerusakan ginjal. Banyak faktor yang mempengaruhi penyakit tekanan darah tinggi, diantaranya yaitu stress, faktor keturunan (genetik), asupan gizi dan pola hidup. Banyak kasus terjadi pada seseorang yang mengalami masalah dan menganggap masalah itu merupakan beban dalam kehidupannya berakibat pada naiknya tekanan darah yang dahsyat. Mereka yang tidak memperhatikan pola hidupnya dan tidak segera memperbaikinya juga beresiko terkena penyakit hipertensi, misal makan makanan yang berkolestrol tinggi, menggunakan garam dalam ukuran yang melebihi batas dan lain – lain. Penyakit hipertensi umumnya berkembang saat umur seseorang telah mencapai paruh baya ( usia 40 hingga 60 tahunan ). Penyakit ini lebih banyak menyerang pria dan wanita pascamenopause. Sejarah keluarga yang memiliki hipertensi mempertinggi resiko adanya penyakit ini. Kebiasaan merokok, displidemia, diabetes mellitus, kegemukan, pendidikan, dan status sosial ekonomi yang rendah, dapat mempertinggi resiko penyakit hipertensi.1 Dalam kedokteran dikenal dua jenis hipertensi yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer merupakan hipertensi yang belum diketahui penyebabnya. Biasanya penyakit ini diketahui ketika seseorang periksa kesehatannya ke dokter misal, seseorang yang melakukan pemeriksaan kesehatan dikarenakan sesuatu yang mengharuskan dia periksa untuk mendaftar di perguruan tinggi ataupun militer. Yang kedua hipertensi sekunder yaitu penyakit hipertensi yag diketahui penyebabnya, hipertensi sekunder merupakan akibat dari suatu penyakit, kondisi serta keadaan seseorang. Misal stress yang parah, penyakit ginjal, pemakaian obat terlarang seperti heroin, kokain atau jenis narkoba lainnya, cedera dikepala serta tumor yang terjadi di otak.1 Klasifikasi hipertensi menurut WHO : 1. Tekanan darah normal, yakni jika sistolik kurang atau sama dengan 140 dan diastolic kurang atau sama dengan 90mmHg. 2. Tekanan darah perbatasan, yakni sistolik 141 – 149 dan diastolic 91 – 94 mmHg. 3. Tekanan darah tinngi atau hipertensi, yakni jika sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan diastolik lebih besar atau sama dengan 95mmHg.1 Lama - kelamaan penyakit hipertensi ini dapat menimbulkan berbagai penyakit lain, yang sebelumnya tidak memberi peringatan. Dari beberapa penelitian, ada beberapa gejala yang dirasakan oleh sebagian orang. Gejala – gejala tersebut bervariasi, antara lain sakit kepala, pusing, migren, pendarahan hidung atau mimisan, sukar tidur, sesak nafas, cepat marah, telinga berdenging, tengkuk terasa berat, berdebar, dan sering kencing di malam hari.2 Penderita hipertensi di Amerima Serikat lebih dari 50 juta orang. Penelitian yang dilakukan di daerah Rusun ( Rumah Susun ) di Kota Palembang, Sumatera Selatan pada tahun 2003 menunjukkan bahwa jumlah penderita hipertensi sebayak 26 % dari 695 orang yang diukur tekanan darahnya.2 Hipertensi mendapat julukan “The Silent Killer” karena penyakit ini sering membuat penderitanya “kecolonganan”. Banyak penderita yang tidak sadar telah mengidapnya. Pada malam hari, tekanan darah cenderung menurun secara drastis. Pada pagi hari, tekanan darah itu akan cenderung meningkat lagi sewaktu bangun tidur. Bagi penderita hipertensi, waktu buta ( saat fajar ) adalah saat – saat yang paling berbahaya bagi hidupnya, karena resiko terkena stroke atau serangan jantung sering terjadi pada saat itu.3
Ada dua macam pengobatan penyakit hipertensi, non farmakologi ( obat tradisional / obat herbal ) dan farmakologi ( obat medis ). Pengobatan pada penyakit hipertensi ini ditujukan untuk mencegah timbulnya komplikasi. Namun dalam pengobatan farmakologis tentunya mempunyai efek bagi tubuh. Akan tetapi sering kali bahwa efek samping ini kadang terlalu dibesar – besarkan sehingga seseorang yang mestinya mendapat manfaat besar dari pemberian obat menjadi enggan mengonsumsi obat dan yang terjadi adalah perburukan kesehatan pasien tersebut. Disamping memiliki kemampuan bekerja lebih cepat dan menghilangkan penyakit disertai efek samping ( side effect ) , pengobatan secara farmakologis juga mahal dalam hal finansial. Salah satu obat hipertensi adalah diuretic. Diuretic, terutama golongan tiazid, adalah obat lini pertama untuk kebanyakan pasien dengan hipertensi.4 Diuretik penahan kalium adalah obat antihipertensi yang lemah bila digunakan sendiri tetapi memberikan efek aditif bila dikombinasikan dengan golongan tiazid atau loop. Obat – obatan jenis ini bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh ( melalui kencing ). Dengan demikian, volume cairan dalam tubuh berkurang sehingga daya pompa jantung lebih ringan. Obat – obatan yang termasuk golongan diuretic contohnya hidroklorotiasid ( HTC ).5 Efek samping  diuretic tiazid termasuk hypokalemia, hipomagnesia, hiperkalsemia, hiperurisemia, hiperglisemia, hyperlipidemia dan disfungsi seksual. Diuretik loop dapat menyebabkan efek samping yang sama, walau efek pada lemak dan serum glukosa tidak begitu bermakna, dan kadang – kadang dapat terjadi hipokalsemia. Obat hipertensi yang lainnya adalah ACEI yaitu penghambat enzin konversi angiotensin. ACEI memiliki kesaan keefektifannya dengan diuretic dan penyekat beta. ACEI menghambat perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II, dimana angiotensin II adalah vasokonstriktor poten yang juga merangsang sekresi aldosteron, efek samping dari ACEI adalah mengurangi aldoteron dan dapat menaikkan konsentrasi kalium serum. Biasanya kenaikkannya sedikit, tetapi hyperkalemia dapat terjadi.6 Selain kedua obat tersebut dalam dunia medis terdapat obat hipertensi yang memiliki efek yang rendah daripada diuretic dan ACEI. ARB memiliki efek yang menguntukan dari stimulasi AT2 ( seperti vasolidasi, perbaikan jaringan dan penghambatan pertumbuhan sel ) tetap utuh dengan penggunaan ARB. Studi menunjukkan kalau ARB mengurangi berkelanjutannya kerusakan organ target jangka panjang pada pasien – pasien dengan hipertensi dan indikasi khusus lainnya.7 Diuretic bisa digunakan dalam dosis kecil namun merupakan bukan pilihan utama. Selanjutnya ada penghambat simpatetik, system kerja obat itu adalah menghambat aktivitas saraf simpatis ( saraf yang bekerja pada saat beraktifitas ). Contoh obat yang termasuk golongan ini yaitu metildopa, klonidin, dan reserpine. Efek samping obat ini adalah anemia hemolitik ( kekurangan sel darah merah karena pecahnya sel darah merah ), gangguan fungsi hati, dan kadang – kadang dapat menimbulkan hepatitis kronis.5
Selain pengobatan farmakologis, penyakit hipertensi bisa juga menggunakan pengobatan non farmakologis ( obat tradisional ) karena dalam pengobatan non farmakologis memiliki kelebihan dalambanyak hal, serta tidak memiliki efek samping bagi tubuh. Apalagi jika kita mengkonsumsi obat – obatan medis secara terus menerus juga tidak baik bagi kesehatan, karena ginjal bekerja ekstra dalam melakukan filtrasi. Dahulu banyak orang kurang antusias melakukan penyelidikan tentang pengobatan non – farmakologis pada hipertensi. Cara itu dianggap kurang efektif dan sangat sulit dilaksanakan. Akan tetapi, mengingat bahwa hipertensi ringan mencangkup sebagian besar kasus dan adanya efek samping akibat pengobatan yang dilakukan dalam jangka panjang. Tidak seperti pengobatan medis, pengobatan tradisional menggunkan dosis yang lebih kecil karena terbuat dari bhan – bahan alami yang tidak membahayakan tubuh jika mengkonsumsinya sehingga memerlukan waktu penyembuhan yang relative lama, namun pada umumnya tanpa efek samping. Seperti Daun dewa karena mengandung saponin, minyak asiri, flavonoid,tannin, polifenol, asam klorogenat, asam vanilat, asam phidroksi benzoate. Mahkota dewa atau simalakama memiliki kandungan kimia dan efek farmakologis. Tumbuhan ini kaya kandungan kimia. Daun dan kulit buah mengandung alkaloid dan saponin. Selain itu, daunnya mengandung polifenol dan kulit buah mengandung flavonoid. Buah mahkota dewa ini dikonsumsi dengan cara diseduh seperti teh namun harus dikeringkan terlebih dahulu. Mengkudu mempunyai kandungan kiia dan efek farmakologis, kulit akar banyak mengandung morindin, morindon, dan soranjidiol. Buah mengandung alkalois triterpenoid, damnacanthal, pro-xeromine, methoxy, formyl dan hydroxyanthraquinone. Daun mengandung protein, zat kapur, zat besi, karoten, dan askorbin. Bunga mengandung glikosida antrakinon. Mengkudu juga mengandung minyak asam capron dan asam caprylat. Morindon merupakan zat warna merah dan berkhasiat pencahar. Saranjidiol berkhasiat sebagai peluruh kencing ( diuretic ). Bagian yang digunakan dan pemanfaatannya, buah, daun, kulit, batang, dan kulit akar dalam keadaan segar atau kering. Untuk pengobatan hipertensi yaitu dengan cara merebus buahnya lalu diminum airnya. Bisa juga meminum serbuk herba yang dimasukkan dalam kapsul.8
Dengan adanya dua pengobatan penyakit hipertensi, pengobatan non farmakologis memililiki kelebihan salah satunya mudah didapat karena bisa ditemukan disekitar lingkungan, dengan tanaman obat sudah terbukti secara ilmiah. Menurunkan tekanan darah dapat terjadi efek diuretic, anti – andrenergik ( menurunkan produksi, sekresi, efektivitas hormone adrenalin ) dan vasodilator ( zat – zat yang berkhasiat melancarkan peredaran darah dengan cara meningkatkan volume pembuluh darah dan organ – organ yang diisi darah sehingga menurunkan tekanan darah tinggi ), serta dapat menghilangkan sumbatan – sumbatan pada pembuluh darah. Dengan berkurangnya air pada darah ( diuretic ) maka menurunkan volume sehingga tekanan darah turun. Efek lain dari tanaman obat yaitu menghilangkan sumbatan. Tanaman obat terbukti menurunkan kolesterol sebagai salah satu penyumbat pada pembuluh darah. Dengan hilangnya sumbatan maka melancarkan system sirkulasi darah sehingga tekanan darah normal. Obat herbalatau tradisional ini memiliki proses kerjanya yang lebih lambat dibanding obat medis konvensional. Meski begitu efek samping yang ditimbulkan oleh obat herbal biasanya hanya bersifat sementara karena tubuh sedang menyesuaikan diri. Namun, dibalik kelemahannya, obat herbal punya keunggulan sifatnya yang konstruktif atau membangun. Meski kerjanya lebih lambat namun pasti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar