Nyeri adalah sebuah respon dari kerusakan organ yang
bersifat individual, sehingga seseorang memiliki ekspresi yang berbeda-beda
meskipun mengalami hal yang serupa. Bahkan seseorang yang mendapatkan perlakuan
yang sama, bisa saja berbeda dalam merasakan nyeri. Hal ini normal, karena rasa
nyeri disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhinya.
Faktor – faktor
yang berpengaruh terhadap nyeri :
Usia
Menurut
Potter & Perry (1993) usia adalah variable penting yang mempengaruhi nyeri
terutama pada anak dan orang dewasa. Perbedaan perkembangan yang ditemukan
antara kedua kelompok umur ini dapat mempengaruhi bagaimana anak dan orang
dewasa bereaksi terhadap nyeri. Anak-anak kesulitan untuk memahami nyeri dan
beranggapan kalau apa yang dilakukan perawat dapat menyebabkan nyeri. Anak-anak
yang belum mempunyai kosakata yang banyak, mempunyai kesulitan mendeskripsikan
secara verbal dan mengekspresikan nyeri kepada orang tua atau perawat.
Anak
belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji respon nyeri
pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan
mengalami kerusakan fungsi (Tamsuri, 2007).
Perawat
dapat menunjukkan serangkaian gambar yang melukiskan deskripsi wajah yang
berbeda, seperti tersenyum, mengerutkan dahi atau menangis. Anak – anak dapat
menunjukkan gambar yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan mereka.
Jenis
Kelamin
Secara umum perbedaan
jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan tidak begitu menonjol dalam hal
menyikapi respon nyeri. Hanya saja ada didalam sebuah kebudayaan yang meyakini
bahwa perbedaan jenis kelamin sangat berpengaruh dalam mengekspresikan respon
nyeri, misalnya menganggap seorang laki-laki harus berani dan tidak boleh
menangis, sedangkan perempuan boleh menangis ketika menghadapi situasi dan rasa
nyeri yang sama.
Kebudayaan
Keyakinan dan
nilai-nilai budaya memengaruhi cara individu mengatasi nyeri. Mereka mulai
mempelajari apa yang mereka terima dan menerapkannya sesuai kebudayaan mereka
masing-masing, terutama dalam hal menyikapi rasa nyeri. Hampir sebagian
kebudayaan mengekspresikan rasa nyeri dengan cara merintih dan menangis. Bahkan
ada yang meyakini bahwa semakin keras tangisan dan rintihan orang tersebut
menandakan semakin sakitnya rasa nyeri yang dirasakan. Tetapi berbeda dengan
budaya di kebangsaan Meksiko-Amerika yang menganggap bahwa menangis keras belum
tentu dianggap sebagai ekspresi penyampaian nyeri yang sangat sakit dan berat.
Keletihan
Keletihan meningkatkan
persepsi nyeri. Rasa kelelahan menyebabkan sensasi nyeri semakin intensif dan
menurunkan daya koping. Apabila keletihan disertai dengan susah tidur, maka
persepsi nyeri bahkan dapat terasa lebih berat lagi. Nyeri seringkali semakin
berkurang setelah klien mengalami suatu periode tidur yang lelap disbanding
pada akhir hari yang melelahkan.
Makna
Nyeri
Pandangan seseorang
mengenai persepsi nyeri memengaruhi pengalaman nyeri dan cara seseorang
beradaptasi terhadap nyeri. Individu akan memersepsikan nyeri dengan cara
berbeda-beda, apabila nyeri tersebut member kesan ancaman, suatu kehilangan,
hukuman dan tantangan. Misalnya seorang wanita yang sedang bersalin akan
memersepsikan rasa nyeri yang berbeda dengan seorang wanita yang mengalami
nyeri akibat terkena pukul dari suami. Derajat dan kualitas nyeri yang
dipersepsikan klien berhubungan dengan makna nyeri.
Perhatian
Tingkat
seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat memengaruhi persepsi
nyeri. Perhatian yang meningkat terhadap rasa nyeri yang dirasakannya akan
berhubungan dengan semakin meningkatnya pula rasa nyeri yang dirasakannya.
Sedangkan upaya pengalihan (distraksi) dihubungkan dengan respon nyeri yang
akan semakin menurun. Konsep ini biasa diterapkan oleh perawat dalam melakukan
terapi kepada pasien misalnya dengan cara relaksasi, teknik imajinasi
terbimbing, dan masase.
Ansietas
Hubungan antara
nyeri dan cemas (ansietas) bersifat kompleks. Cemas seringkali meningkatkan
persepsi nyeri, tetapi nyeri juga dapat menimbulkan suatu perasaan cemas. Pola
bangkitan otonom adalah sama dalam nyeri dan cemas. Sulit untuk memisahkan dua
sensasi. Paice (1991) melaporkan suatu bukti bahwa stimulus nyeri mengaktifkan
bagian system limbic yang diyakini mengendalikan emosi sesesorang, khususnya
cemas. System limbic dapat memproses reaksi emosi terhadap nyeri yakni
memperburuk atau menghilangkan nyeri. Individu yang sehat secara emosional
biasanya lebih mampu menoleransi nyeri sedang hingga berat daripada individu
yang memiliki status emosional yang kurang stabil. Klien yang mengalami cidera
atau menderita penyakit kritis seringkali mengalami kesulitan mengontrol
lingkungan dan perawatan diri dapat menimbulkan tingkat cemas yang tinggi.
Apabila rasa cemas tidak mendapat perhatian didalam suatu lingkungan
berteknologi tinggi misalnya di unit perawatan intensif maka rasa cemas
tersebut dapat menimbulkan suatu masalah penatalaksanaan nyeri yang serius.
Nyeri yang tidak kunjung menghilang seringkali menyebabkan psikosis dan
gangguan kepibadian.
Pengalaman
masa lalu dengan nyeri
Seringkali individu yang lebih
berpengalaman dengan nyeri yang dialaminya, makin takut individu tersebut
terhadap peristiwa menyakitkan yang akan diakibatkan. Individu ini mungkin akan
lebih sedikit mentoleransi nyeri, akibatnya ia ingin nyerinya segera reda
sebelum nyeri tersebut menjadi lebih parah. Reaksi ini hampir pasti terjadi jika
individu tersebut mengetahui ketakutan dapat meningkatkan nyeri dan pengobatan
yang tidak adekurat.
Cara seseorang berespon terhadap
nyeri adalah akibat dari banyak kejadian nyeri adalah akibat dari banyak
kejadian nyeri selama rentang kehidupannya. Bagi beberapa orang, nyeri masa
lalu dapat saja menetap dan tidak terselesaikan, seperti pada nyeri
berkepanjangan atau kronis dan persisten.
Efek yang tidak
diinginkan yang diakibatkan dari pengalaman sebelumnya menunjukkan pentingnya
perawat untuk waspada terhadap
pengalaman pasien dengan nyeri. Jika
nyerinya teratasi dengan tepat dan adekurat, individu mungkin lebih sedikit
ketakutan terhadap nyeri dimasa mendatang dan mampu mentoleransi nyeri dengan
baik (Smeltzer & Bare, 2002).
Efek Plasebo
Efek placebo terjadi ketika
seseorang berespon terhadap pengobatan atau tindakan lain karena sesuatu
harapan bahwa pengobatan tersebut benar – benar bekerja. Menerima pengobatan
atau tindakan saja sudah merupakan efek positif.
Harapan positif pasien tentang
pengobatan dapat meningkatkan keefektifan medikasi atau intervensi lainnya.
Seringkali makin banyak petunjuk yang diterima pasien tentang keefektifan
intervensi, makin efektif intervensi tersebut nantinya. Individu yang
diberitahu bahwa suatu medikasi diperkirakan dapat meredakan nyeri hampir pasti
akan mengalami peredaan nyeri disbanding dengan pasien yang diberitahu bahwa
medikasi yang didapatnya tidak mempunyai efek apapun. Hubungan pasien – perawat
yang positif dapat juga menjadi peran yang amat penting dalam meningkatkan efek
placebo (Smeltzer & Bare, 2002).
Pola
Koping
Ketika
seseorang mengalami nyeri dan menjalani perawatan di rumah sakit adalah hal
yang sangat tak tertahankan. Secara terus menerus klien kehilangan control dan
tidak mampu untuk mengontrol lingkungan termasuk nyeri. Klien sering menemukan
jalan untuk mengatasi efek nyeri baik fisik maupun psikologis. Penting untuk
mengerti sumber koping individu selama nyeri. Sumber – sumber koping ini
seperti berkomunikasi dengan keluarga, latihan dan bernyanyi dapat digunakan
sebagai rencana untuk mensupport klien dan menurunkan nyeri klien. Sumber
koping lebih dari sekitar metode teknik. Seorang klien mungkin tergentng pada
support emosional dari anak – anak, keluarga atau teman. Meskipun nyeri masih
ada tetapi dapat memberi kenyamanan untuk berdo’a, memberikan banyak kekuatan
untuk mengatasi ketidaknyamanan yang datang (Potter & Perry, 1993).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar