Senin, 17 November 2014

N Y E R I



Nyeri adalah sebuah respon dari kerusakan organ yang bersifat individual, sehingga seseorang memiliki ekspresi yang berbeda-beda meskipun mengalami hal yang serupa. Bahkan seseorang yang mendapatkan perlakuan yang sama, bisa saja berbeda dalam merasakan nyeri. Hal ini normal, karena rasa nyeri disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhinya.

Faktor – faktor yang berpengaruh terhadap nyeri :
Usia
Menurut Potter & Perry (1993) usia adalah variable penting yang mempengaruhi nyeri terutama pada anak dan orang dewasa. Perbedaan perkembangan yang ditemukan antara kedua kelompok umur ini dapat mempengaruhi bagaimana anak dan orang dewasa bereaksi terhadap nyeri. Anak-anak kesulitan untuk memahami nyeri dan beranggapan kalau apa yang dilakukan perawat dapat menyebabkan nyeri. Anak-anak yang belum mempunyai kosakata yang banyak, mempunyai kesulitan mendeskripsikan secara verbal dan mengekspresikan nyeri kepada orang tua atau perawat.
Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi (Tamsuri, 2007).
Perawat dapat menunjukkan serangkaian gambar yang melukiskan deskripsi wajah yang berbeda, seperti tersenyum, mengerutkan dahi atau menangis. Anak – anak dapat menunjukkan gambar yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan mereka.

Jenis Kelamin
        Secara umum perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan tidak begitu menonjol dalam hal menyikapi respon nyeri. Hanya saja ada didalam sebuah kebudayaan yang meyakini bahwa perbedaan jenis kelamin sangat berpengaruh dalam mengekspresikan respon nyeri, misalnya menganggap seorang laki-laki harus berani dan tidak boleh menangis, sedangkan perempuan boleh menangis ketika menghadapi situasi dan rasa nyeri yang sama.

Kebudayaan
        Keyakinan dan nilai-nilai budaya memengaruhi cara individu mengatasi nyeri. Mereka mulai mempelajari apa yang mereka terima dan menerapkannya sesuai kebudayaan mereka masing-masing, terutama dalam hal menyikapi rasa nyeri. Hampir sebagian kebudayaan mengekspresikan rasa nyeri dengan cara merintih dan menangis. Bahkan ada yang meyakini bahwa semakin keras tangisan dan rintihan orang tersebut menandakan semakin sakitnya rasa nyeri yang dirasakan. Tetapi berbeda dengan budaya di kebangsaan Meksiko-Amerika yang menganggap bahwa menangis keras belum tentu dianggap sebagai ekspresi penyampaian nyeri yang sangat sakit dan berat.
Keletihan
        Keletihan meningkatkan persepsi nyeri. Rasa kelelahan menyebabkan sensasi nyeri semakin intensif dan menurunkan daya koping. Apabila keletihan disertai dengan susah tidur, maka persepsi nyeri bahkan dapat terasa lebih berat lagi. Nyeri seringkali semakin berkurang setelah klien mengalami suatu periode tidur yang lelap disbanding pada akhir hari yang melelahkan.

Makna Nyeri
        Pandangan seseorang mengenai persepsi nyeri memengaruhi pengalaman nyeri dan cara seseorang beradaptasi terhadap nyeri. Individu akan memersepsikan nyeri dengan cara berbeda-beda, apabila nyeri tersebut member kesan ancaman, suatu kehilangan, hukuman dan tantangan. Misalnya seorang wanita yang sedang bersalin akan memersepsikan rasa nyeri yang berbeda dengan seorang wanita yang mengalami nyeri akibat terkena pukul dari suami. Derajat dan kualitas nyeri yang dipersepsikan klien berhubungan dengan makna nyeri.

Perhatian
        Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat memengaruhi persepsi nyeri. Perhatian yang meningkat terhadap rasa nyeri yang dirasakannya akan berhubungan dengan semakin meningkatnya pula rasa nyeri yang dirasakannya. Sedangkan upaya pengalihan (distraksi) dihubungkan dengan respon nyeri yang akan semakin menurun. Konsep ini biasa diterapkan oleh perawat dalam melakukan terapi kepada pasien misalnya dengan cara relaksasi, teknik imajinasi terbimbing, dan masase.

Ansietas
          Hubungan antara nyeri dan cemas (ansietas) bersifat kompleks. Cemas seringkali meningkatkan persepsi nyeri, tetapi nyeri juga dapat menimbulkan suatu perasaan cemas. Pola bangkitan otonom adalah sama dalam nyeri dan cemas. Sulit untuk memisahkan dua sensasi. Paice (1991) melaporkan suatu bukti bahwa stimulus nyeri mengaktifkan bagian system limbic yang diyakini mengendalikan emosi sesesorang, khususnya cemas. System limbic dapat memproses reaksi emosi terhadap nyeri yakni memperburuk atau menghilangkan nyeri. Individu yang sehat secara emosional biasanya lebih mampu menoleransi nyeri sedang hingga berat daripada individu yang memiliki status emosional yang kurang stabil. Klien yang mengalami cidera atau menderita penyakit kritis seringkali mengalami kesulitan mengontrol lingkungan dan perawatan diri dapat menimbulkan tingkat cemas yang tinggi. Apabila rasa cemas tidak mendapat perhatian didalam suatu lingkungan berteknologi tinggi misalnya di unit perawatan intensif maka rasa cemas tersebut dapat menimbulkan suatu masalah penatalaksanaan nyeri yang serius. Nyeri yang tidak kunjung menghilang seringkali menyebabkan psikosis dan gangguan kepibadian.

Pengalaman masa lalu dengan nyeri
Seringkali individu yang lebih berpengalaman dengan nyeri yang dialaminya, makin takut individu tersebut terhadap peristiwa menyakitkan yang akan diakibatkan. Individu ini mungkin akan lebih sedikit mentoleransi nyeri, akibatnya ia ingin nyerinya segera reda sebelum nyeri tersebut menjadi lebih parah. Reaksi ini hampir pasti terjadi jika individu tersebut mengetahui ketakutan dapat meningkatkan nyeri dan pengobatan yang tidak adekurat.
Cara seseorang berespon terhadap nyeri adalah akibat dari banyak kejadian nyeri adalah akibat dari banyak kejadian nyeri selama rentang kehidupannya. Bagi beberapa orang, nyeri masa lalu dapat saja menetap dan tidak terselesaikan, seperti pada nyeri berkepanjangan atau kronis dan persisten.
Efek yang tidak diinginkan yang diakibatkan dari pengalaman sebelumnya menunjukkan pentingnya perawat untuk waspada  terhadap pengalaman  pasien dengan nyeri. Jika nyerinya teratasi dengan tepat dan adekurat, individu mungkin lebih sedikit ketakutan terhadap nyeri dimasa mendatang dan mampu mentoleransi nyeri dengan baik (Smeltzer & Bare, 2002).
 Efek Plasebo
Efek placebo terjadi ketika seseorang berespon terhadap pengobatan atau tindakan lain karena sesuatu harapan bahwa pengobatan tersebut benar – benar bekerja. Menerima pengobatan atau tindakan saja sudah merupakan efek positif.
Harapan positif pasien tentang pengobatan dapat meningkatkan keefektifan medikasi atau intervensi lainnya. Seringkali makin banyak petunjuk yang diterima pasien tentang keefektifan intervensi, makin efektif intervensi tersebut nantinya. Individu yang diberitahu bahwa suatu medikasi diperkirakan dapat meredakan nyeri hampir pasti akan mengalami peredaan nyeri disbanding dengan pasien yang diberitahu bahwa medikasi yang didapatnya tidak mempunyai efek apapun. Hubungan pasien – perawat yang positif dapat juga menjadi peran yang amat penting dalam meningkatkan efek placebo (Smeltzer & Bare, 2002).

Pola Koping
           Ketika seseorang mengalami nyeri dan menjalani perawatan di rumah sakit adalah hal yang sangat tak tertahankan. Secara terus menerus klien kehilangan control dan tidak mampu untuk mengontrol lingkungan termasuk nyeri. Klien sering menemukan jalan untuk mengatasi efek nyeri baik fisik maupun psikologis. Penting untuk mengerti sumber koping individu selama nyeri. Sumber – sumber koping ini seperti berkomunikasi dengan keluarga, latihan dan bernyanyi dapat digunakan sebagai rencana untuk mensupport klien dan menurunkan nyeri klien. Sumber koping lebih dari sekitar metode teknik. Seorang klien mungkin tergentng pada support emosional dari anak – anak, keluarga atau teman. Meskipun nyeri masih ada tetapi dapat memberi kenyamanan untuk berdo’a, memberikan banyak kekuatan untuk mengatasi ketidaknyamanan yang datang (Potter & Perry, 1993).














Tidak ada komentar:

Posting Komentar